Rabu, 06 April 2011
¤MARILAH MENGINGAT KEMATIAN¤
Diposting oleh
Irfan Andhika
di
07.43
0
komentar
Kirimkan Ini lewat Email
BlogThis!
Bagikan ke X
Berbagi ke Facebook
Sabtu, 02 April 2011
¤TA'ARUF¤
Semoga Allah mencurahkan
rahmat-Nya kepada kita semua.
Ta'aruf sebagai sarana yang
objektif dalam melakukan
pengenalan dan pendekatan.
Ta'aruf sangat berbeda dengan
pacaran. Ta`aruf secara syar`i
memang diperintahkan oleh
Rasulullah SAW bagi pasangan
yang ingin nikah. Perbedaan hakiki
antara pacaran dengan ta'aruf
adalah dari segi tujuan dan
manfaat.
Jika tujuan pacaran lebih kepada
kenikmatan sesaat, zina dan
maksiat. Sedang ta'aruf jelas sekali
tujuannya yaitu untuk mengetahui
kriteria calon pasangan.
Dalam pacaran, mengenal dan
mengetahui hal-hal tertentu calon
pasangan dilakukan dengan cara
yang sama sekali tidak memenuhi
kriteria sebuah pengenalan. Ibarat
seorang yang ingin membeli mobil
second tapi tidak melakukan
pemeriksaan, dia cuma memegang
atau mengelus mobil itu tanpa
pernah tahu kondisi mesinnya.
Bahkan dia tidak menyalakan
mesin atau membuka kap
mesinnya. Bagaimana mungkin dia
bisa tahu kelemahan dan kelebihan
mobil itu.
Sedangkan taaruf adalah seperti
seorang montir mobil ahli yang
memeriksa mesin, sistem kemudi,
sistem rem, sistem lampu dan
elektrik, roda dan sebagainya. Bila
ternyata cocok, maka barulah dia
melakukan tawar menawar.
Ketika melakukan ta'aruf,
seseorang baik pihak laki atau
wanita berhak untuk bertanya
yang mendetail, seperti tentang
penyakit, kebiasaan buruk dan
baik, sifat dan lainnya. Kedua belah
pihak harus jujur dalam
menyampaikannya. Karena bila
tidak jujur, bisa berakibat fatal
nantinya.
Namun secara teknis, untuk
melakukan pengecekan, calon
pembeli tidak pernah boleh untuk
membawa pergi mobil itu sendiri.
Silahkan periksa dengan baik dan
kalau tertarik, mari bicara harga.
Dalam upaya ta'aruf dengan calon
pasangan, pihak laki dan wanita
dipersilahkan menanyakan apa
saja yang kira-kira terkait dengan
kepentingan masing-masing nanti
selama mengarungi kehidupan. Tapi
tentu saja semua itu harus
dilakukan dengan adab dan
etikanya. Tidak boleh dilakukan
cuma berdua saja. Harus ada yang
mendampingi dan yang utama
adalah wali atau keluarganya. Jadi
ta`aruf bukanlah bermesraan
berdua, tapi lebih kepada
pembicaraan yang bersifat realistis
untuk mempersiapkan sebuah
perjalanan panjang berdua.
Taaruf adalah media syar`i yang
dapat digunakan untuk melakukan
pengenalan terhadap calon
pasangan. Sisi yang dijadikan
pengenalan tidak hanya terkait
dengan data global, melainkan juga
termasuk hal-hal kecil yang
menurut masing-masing pihak
cukup penting.
Misalnya masalah kecantikan calon
istri, dibolehkan untuk melihat
langsung wajahnya dengan cara
yang seksama, bukan cuma
sekedar curi-curi pandang atau
ngintip fotonya. Justru Islam telah
memerintahkan seorang calon
suami untuk mendatangi calon
istrinya secara langsung face to
face, bukan melalui media foto,
lukisan atau video.
Karena pada hakikatnya wajah
seorang wanita itu bukan aurat,
jadi tidak ada salahnya untuk
dilihat. Dan khusus dalam kasus
ta`aruf, yang namanya melihat
wajah itu bukan cuma melirik-
melirik sekilas, tapi kalau perlu
dipelototi dengan seksama.
Periksalah apakah ada jerawat
numpang tumbuh disana. Begitu
juga dia boleh meminta
diperlihatkan kedua tapak tangan
calon istrinya. Juga bukan melihat
sekilas, tapi melihat dengan
seksama. Karena tapak tangan
wanita pun bukan termasuk aurat.
Lalu bagaimana dengan keharusan
ghadhdhul bashar ? Bab ghadhdhul
bashar tempatnya bukan saat
ta`aruf, karena pada saat ta`aruf,
secara khusus Rasulullah SAW
memang memerintahkan untuk
melihat dengan seksama dan teliti.
Selain urusan melihat pisik, taaruf
juga harus menghasilkan data yang
berkaitan dengan sikap, perilaku,
pengalaman, cara kehidupan dan
lain-lainnya. Hanya semua itu harus
dilakukan dengan cara yang benar
dan dalam koridor syari`ah Islam.
Minimal harus ditemani orang lain
baik dari keluarga calon istri atau
dari calon suami. Sehingga tidak
dibenarkan untuk pergi jalan-jalan
berdua, nonton, boncengan, kencan,
ngedate dan seterusnya dengan
menggunakan alasan ta`aruf.
Janganlah ta`aruf menjadi pacaran.
Sehingga tidak terjadi khalwat dan
ikhtilath antara pasangan yang
belum jadi suami istri ini.
Mengenai jarak antara lamaran dan
akad,. tidak ada batasan tertentu.
Tetapi sebaiknya akad dilakukan
secepat mungkin setelah lamaran
untuk menghindarkan fitnah.
Bahkan, tidak mengapa
menanyakan tentang kemungkinan
pelaksanaan akad tersebut saat
lamaran dilakukan.
rahmat-Nya kepada kita semua.
Ta'aruf sebagai sarana yang
objektif dalam melakukan
pengenalan dan pendekatan.
Ta'aruf sangat berbeda dengan
pacaran. Ta`aruf secara syar`i
memang diperintahkan oleh
Rasulullah SAW bagi pasangan
yang ingin nikah. Perbedaan hakiki
antara pacaran dengan ta'aruf
adalah dari segi tujuan dan
manfaat.
Jika tujuan pacaran lebih kepada
kenikmatan sesaat, zina dan
maksiat. Sedang ta'aruf jelas sekali
tujuannya yaitu untuk mengetahui
kriteria calon pasangan.
Dalam pacaran, mengenal dan
mengetahui hal-hal tertentu calon
pasangan dilakukan dengan cara
yang sama sekali tidak memenuhi
kriteria sebuah pengenalan. Ibarat
seorang yang ingin membeli mobil
second tapi tidak melakukan
pemeriksaan, dia cuma memegang
atau mengelus mobil itu tanpa
pernah tahu kondisi mesinnya.
Bahkan dia tidak menyalakan
mesin atau membuka kap
mesinnya. Bagaimana mungkin dia
bisa tahu kelemahan dan kelebihan
mobil itu.
Sedangkan taaruf adalah seperti
seorang montir mobil ahli yang
memeriksa mesin, sistem kemudi,
sistem rem, sistem lampu dan
elektrik, roda dan sebagainya. Bila
ternyata cocok, maka barulah dia
melakukan tawar menawar.
Ketika melakukan ta'aruf,
seseorang baik pihak laki atau
wanita berhak untuk bertanya
yang mendetail, seperti tentang
penyakit, kebiasaan buruk dan
baik, sifat dan lainnya. Kedua belah
pihak harus jujur dalam
menyampaikannya. Karena bila
tidak jujur, bisa berakibat fatal
nantinya.
Namun secara teknis, untuk
melakukan pengecekan, calon
pembeli tidak pernah boleh untuk
membawa pergi mobil itu sendiri.
Silahkan periksa dengan baik dan
kalau tertarik, mari bicara harga.
Dalam upaya ta'aruf dengan calon
pasangan, pihak laki dan wanita
dipersilahkan menanyakan apa
saja yang kira-kira terkait dengan
kepentingan masing-masing nanti
selama mengarungi kehidupan. Tapi
tentu saja semua itu harus
dilakukan dengan adab dan
etikanya. Tidak boleh dilakukan
cuma berdua saja. Harus ada yang
mendampingi dan yang utama
adalah wali atau keluarganya. Jadi
ta`aruf bukanlah bermesraan
berdua, tapi lebih kepada
pembicaraan yang bersifat realistis
untuk mempersiapkan sebuah
perjalanan panjang berdua.
Taaruf adalah media syar`i yang
dapat digunakan untuk melakukan
pengenalan terhadap calon
pasangan. Sisi yang dijadikan
pengenalan tidak hanya terkait
dengan data global, melainkan juga
termasuk hal-hal kecil yang
menurut masing-masing pihak
cukup penting.
Misalnya masalah kecantikan calon
istri, dibolehkan untuk melihat
langsung wajahnya dengan cara
yang seksama, bukan cuma
sekedar curi-curi pandang atau
ngintip fotonya. Justru Islam telah
memerintahkan seorang calon
suami untuk mendatangi calon
istrinya secara langsung face to
face, bukan melalui media foto,
lukisan atau video.
Karena pada hakikatnya wajah
seorang wanita itu bukan aurat,
jadi tidak ada salahnya untuk
dilihat. Dan khusus dalam kasus
ta`aruf, yang namanya melihat
wajah itu bukan cuma melirik-
melirik sekilas, tapi kalau perlu
dipelototi dengan seksama.
Periksalah apakah ada jerawat
numpang tumbuh disana. Begitu
juga dia boleh meminta
diperlihatkan kedua tapak tangan
calon istrinya. Juga bukan melihat
sekilas, tapi melihat dengan
seksama. Karena tapak tangan
wanita pun bukan termasuk aurat.
Lalu bagaimana dengan keharusan
ghadhdhul bashar ? Bab ghadhdhul
bashar tempatnya bukan saat
ta`aruf, karena pada saat ta`aruf,
secara khusus Rasulullah SAW
memang memerintahkan untuk
melihat dengan seksama dan teliti.
Selain urusan melihat pisik, taaruf
juga harus menghasilkan data yang
berkaitan dengan sikap, perilaku,
pengalaman, cara kehidupan dan
lain-lainnya. Hanya semua itu harus
dilakukan dengan cara yang benar
dan dalam koridor syari`ah Islam.
Minimal harus ditemani orang lain
baik dari keluarga calon istri atau
dari calon suami. Sehingga tidak
dibenarkan untuk pergi jalan-jalan
berdua, nonton, boncengan, kencan,
ngedate dan seterusnya dengan
menggunakan alasan ta`aruf.
Janganlah ta`aruf menjadi pacaran.
Sehingga tidak terjadi khalwat dan
ikhtilath antara pasangan yang
belum jadi suami istri ini.
Mengenai jarak antara lamaran dan
akad,. tidak ada batasan tertentu.
Tetapi sebaiknya akad dilakukan
secepat mungkin setelah lamaran
untuk menghindarkan fitnah.
Bahkan, tidak mengapa
menanyakan tentang kemungkinan
pelaksanaan akad tersebut saat
lamaran dilakukan.
Diposting oleh
Irfan Andhika
di
01.34
0
komentar
Kirimkan Ini lewat Email
BlogThis!
Bagikan ke X
Berbagi ke Facebook
¤HADITS TENTANG KIAMAT¤
Diposting oleh
Irfan Andhika
di
01.20
0
komentar
Kirimkan Ini lewat Email
BlogThis!
Bagikan ke X
Berbagi ke Facebook
Jumat, 01 April 2011
¤SHALAT TASBIH¤
Shalat Tasbih merupakan shalat
sunnat yang didalamnya pelaku
shalat akan membaca kalimat
tasbih (kalimat “Subhanallah wal
hamdu lillahi walaa ilaaha illallahu
wallahu akbar”) sebanyak 300 kali
(4 raka'at masing-masing 75 kali
tasbih). Shalat ini diajarkan
Rasulullah SAW kepada pamannya
yakni sayyidina Abbas bin Abdul
Muthallib. Namun beberapa ulama
berbeda pendapat tentang hal ini.
Hikmah shalat adalah dapat
mencegah perbuatan keji dan
kemungkaran, tentu saja dari
shalat tasbih yang dilakukan
dengan hati yang ikhlas diharapkan
akan dapat pula seseorang yang
melakukannya dicegah atau
terjaga dari perbuata-perbuatan
yang keji lagi mungkar.
Shalat tasbih dilakukan 4 raka'at
(jika dikerjakan siang maka 4
raka'at dengan sekali salam, jika
malam 4 raka'at dengan dua
salam ) sebagaimana shalat biasa
dengan tambahan bacaan tasbih
pada saat-saat berikut:
No. Waktu Jml. Tasbih
1 Setelah pembacaan surat al
fatihah dan surat pendek saat
berdiri 15 kali
2 Setelah tasbih ruku' (Subhana
rabiyyal adzim...) 10 Kali
3 Setelah I'tidal 10 Kali
4 Setelah tasbih sujud pertama
(Subhana rabiyyal a'la...) 10 Kali
5 Setelah duduk diantara dua sujud
10 Kali
6 Setelah tasbih sujud kedua
(Subhana rabiyyal a'la...) 10 Kali
7 Setelah duduk istirahat sebelum
berdiri (atau sebelum salam
tergantung pada raka'at keberapa)
10 Kali
Jumlah total satu raka'at 75
Jumlah total empat raka'at 4 X 75
= 300 kali
Para ulama berbeda pendapat
mengenai shalat tasbih, berikut
adalah beberapa pendapat
mereka :
* Pertama: Sholat tashbih adalah
mustahabbah (sunnah).
Pendapat ini dikemukakan oleh
sebagian ulama penganut Mazhab
Syafi'i. Hadits Rasulullah SAW
kepada pamannya Abbas bin Abdul
Muthallib yang berbunyi:
"Wahai Abbas pamanku, Aku ingin
memberikan padamu, aku benar-
benar mencintaimu, aku ingin
engkau melakukan -sepuluh sifat-
jika engkau melakukannya Allah
akan mengampuni dosamu, baik
yang pertama dan terakhir, yang
terdahulu dan yang baru, yang
tidak sengaja maupun yang
disengaja, yang kecil maupun yang
besar, yang tersembunyi maupun
yang terang-terangan. Sepuluh sifat
adalah: Engkau melaksankan shalat
empat rakaat; engkau baca dalam
setiap rakaat Al-Fatihah dan surat,
apabila engkau selesai
membacanya di rakaat pertama
dan engkau masih berdiri, maka
ucapkanlah: Subhanallah
Walhamdulillah Walaa Ilaaha Ilallah
Wallahu Akbar 15 kali, Kemudian
ruku'lah dan bacalah do'a tersebut
10 kali ketika sedang ruku,
kemudian sujudlah dan bacalah
do'a tersebut 10 kali ketika sujud,
kemudian bangkitlah dari sujud dan
bacalah 10 kali kemudian sujudlah
dan bacalah 10 kali kemudian
bangkitlah dari sujud dan bacalah
10 kali. Itulah 75 kali dalam setiap
rakaat, dan lakukanlah hal tersebut
pada empat rakaat. Jika engkau
sanggup untuk melakukannya satu
kali dalam setiap hari, maka
lakukanlah, jika tidak, maka
lakukanlah satu kali seminggu, jika
tidak maka lakukanlah sebulan
sekali, jika tidak maka lakukanlah
sekali dalam setahun dan jika tidak
maka lakukanlah sekali dalam
seumur hidupmu" (HR Abu Daud
2/67-68)
Ibnu Ma'in. An-Nasaiy berkata: Ia
tidak apa-apa. Az-Zarkasyi
berpendapat: "Hadis shahih dan
bukan dhaif". Ibnu As-Sholah:
"Haditsnya adalah Hasan"
* Kedua: Shalat tasbih boleh
dilaksanakan (boleh tapi tidak
disunnahkan).
Pendapat ini dikemukakan oleh
ulama penganut Mazhab Hambali.
Mereka berkata: "Tidak ada hadits
yang tsabit (kuat) dan shalat
tersebut termasuk Fadhailul A'maal,
maka cukup berlandaskan hadits
dhaif."
Ibnu Qudamah berkata: "Jika ada
orang yang melakukannya maka
hal tersebut tidak mengapa, karena
shalat nawafil dan Fadhailul A'maal
tidak disyaratkan harus dengan
berlandaskan hadits shahih" (Al-
Mughny 2/123)
* Ketiga: Shalat tersebut tidak
disyariatkan.
Imam Nawawi dalam Al-Majmu'
berkata: "Perlu diteliti kembali
tentang kesunahan pelaksanaan
shalat tasbih karena haditsnya
dhaif, dan adanya perubahan
susunan shalat dalam shalat tasbih
yang berbeda dengan shalat biasa.
Dan hal tersebut hendaklah tidak
dilakukan kalau tidak ada hadits
yang menjelaskannya. Dan hadits
yang menjelaskan shalat tasbih
tidak kuat".
Ibnu Qudamah menukil riwayat
dari Imam Ahmad bahwa tidak ada
hadits shahih yang menjelaskan hal
tersebut. Ibnuljauzi mengatakan
bahwa hadits-hadits yang berkaitan
dengan shalat tasbih termasuk
maudhu`. Ibnu Hajar berkata dalam
At-Talkhis bahwa yang benar
adalah seluruh riwayat hadits
adalah dhaif meskipun hadits Ibnu
Abbas mendekati syarat hasan,
akan tetapi hadits itu syadz karena
hanya diriwayatkan oleh satu
orang rawi dan tidak ada hadits
lain yang menguatkannya. Dan
juga shalat tasbih berbeda
gerakannya dengan shalat-shalat
yang lain.
Dalam kitab-kitab fiqih mazhab
Hanafiyah dan Malikiyah tidak
pernah disebutkan perihal shalat
tasbih ini kecuali dalam Talkhis Al-
Habir dari Ibnul Arabi bahwa beliau
berpendapat tidak ada hadits
shahih maupun hasan yang
menjelaskan tentang shalat tasbih
ini.
sunnat yang didalamnya pelaku
shalat akan membaca kalimat
tasbih (kalimat “Subhanallah wal
hamdu lillahi walaa ilaaha illallahu
wallahu akbar”) sebanyak 300 kali
(4 raka'at masing-masing 75 kali
tasbih). Shalat ini diajarkan
Rasulullah SAW kepada pamannya
yakni sayyidina Abbas bin Abdul
Muthallib. Namun beberapa ulama
berbeda pendapat tentang hal ini.
Hikmah shalat adalah dapat
mencegah perbuatan keji dan
kemungkaran, tentu saja dari
shalat tasbih yang dilakukan
dengan hati yang ikhlas diharapkan
akan dapat pula seseorang yang
melakukannya dicegah atau
terjaga dari perbuata-perbuatan
yang keji lagi mungkar.
Shalat tasbih dilakukan 4 raka'at
(jika dikerjakan siang maka 4
raka'at dengan sekali salam, jika
malam 4 raka'at dengan dua
salam ) sebagaimana shalat biasa
dengan tambahan bacaan tasbih
pada saat-saat berikut:
No. Waktu Jml. Tasbih
1 Setelah pembacaan surat al
fatihah dan surat pendek saat
berdiri 15 kali
2 Setelah tasbih ruku' (Subhana
rabiyyal adzim...) 10 Kali
3 Setelah I'tidal 10 Kali
4 Setelah tasbih sujud pertama
(Subhana rabiyyal a'la...) 10 Kali
5 Setelah duduk diantara dua sujud
10 Kali
6 Setelah tasbih sujud kedua
(Subhana rabiyyal a'la...) 10 Kali
7 Setelah duduk istirahat sebelum
berdiri (atau sebelum salam
tergantung pada raka'at keberapa)
10 Kali
Jumlah total satu raka'at 75
Jumlah total empat raka'at 4 X 75
= 300 kali
Para ulama berbeda pendapat
mengenai shalat tasbih, berikut
adalah beberapa pendapat
mereka :
* Pertama: Sholat tashbih adalah
mustahabbah (sunnah).
Pendapat ini dikemukakan oleh
sebagian ulama penganut Mazhab
Syafi'i. Hadits Rasulullah SAW
kepada pamannya Abbas bin Abdul
Muthallib yang berbunyi:
"Wahai Abbas pamanku, Aku ingin
memberikan padamu, aku benar-
benar mencintaimu, aku ingin
engkau melakukan -sepuluh sifat-
jika engkau melakukannya Allah
akan mengampuni dosamu, baik
yang pertama dan terakhir, yang
terdahulu dan yang baru, yang
tidak sengaja maupun yang
disengaja, yang kecil maupun yang
besar, yang tersembunyi maupun
yang terang-terangan. Sepuluh sifat
adalah: Engkau melaksankan shalat
empat rakaat; engkau baca dalam
setiap rakaat Al-Fatihah dan surat,
apabila engkau selesai
membacanya di rakaat pertama
dan engkau masih berdiri, maka
ucapkanlah: Subhanallah
Walhamdulillah Walaa Ilaaha Ilallah
Wallahu Akbar 15 kali, Kemudian
ruku'lah dan bacalah do'a tersebut
10 kali ketika sedang ruku,
kemudian sujudlah dan bacalah
do'a tersebut 10 kali ketika sujud,
kemudian bangkitlah dari sujud dan
bacalah 10 kali kemudian sujudlah
dan bacalah 10 kali kemudian
bangkitlah dari sujud dan bacalah
10 kali. Itulah 75 kali dalam setiap
rakaat, dan lakukanlah hal tersebut
pada empat rakaat. Jika engkau
sanggup untuk melakukannya satu
kali dalam setiap hari, maka
lakukanlah, jika tidak, maka
lakukanlah satu kali seminggu, jika
tidak maka lakukanlah sebulan
sekali, jika tidak maka lakukanlah
sekali dalam setahun dan jika tidak
maka lakukanlah sekali dalam
seumur hidupmu" (HR Abu Daud
2/67-68)
Ibnu Ma'in. An-Nasaiy berkata: Ia
tidak apa-apa. Az-Zarkasyi
berpendapat: "Hadis shahih dan
bukan dhaif". Ibnu As-Sholah:
"Haditsnya adalah Hasan"
* Kedua: Shalat tasbih boleh
dilaksanakan (boleh tapi tidak
disunnahkan).
Pendapat ini dikemukakan oleh
ulama penganut Mazhab Hambali.
Mereka berkata: "Tidak ada hadits
yang tsabit (kuat) dan shalat
tersebut termasuk Fadhailul A'maal,
maka cukup berlandaskan hadits
dhaif."
Ibnu Qudamah berkata: "Jika ada
orang yang melakukannya maka
hal tersebut tidak mengapa, karena
shalat nawafil dan Fadhailul A'maal
tidak disyaratkan harus dengan
berlandaskan hadits shahih" (Al-
Mughny 2/123)
* Ketiga: Shalat tersebut tidak
disyariatkan.
Imam Nawawi dalam Al-Majmu'
berkata: "Perlu diteliti kembali
tentang kesunahan pelaksanaan
shalat tasbih karena haditsnya
dhaif, dan adanya perubahan
susunan shalat dalam shalat tasbih
yang berbeda dengan shalat biasa.
Dan hal tersebut hendaklah tidak
dilakukan kalau tidak ada hadits
yang menjelaskannya. Dan hadits
yang menjelaskan shalat tasbih
tidak kuat".
Ibnu Qudamah menukil riwayat
dari Imam Ahmad bahwa tidak ada
hadits shahih yang menjelaskan hal
tersebut. Ibnuljauzi mengatakan
bahwa hadits-hadits yang berkaitan
dengan shalat tasbih termasuk
maudhu`. Ibnu Hajar berkata dalam
At-Talkhis bahwa yang benar
adalah seluruh riwayat hadits
adalah dhaif meskipun hadits Ibnu
Abbas mendekati syarat hasan,
akan tetapi hadits itu syadz karena
hanya diriwayatkan oleh satu
orang rawi dan tidak ada hadits
lain yang menguatkannya. Dan
juga shalat tasbih berbeda
gerakannya dengan shalat-shalat
yang lain.
Dalam kitab-kitab fiqih mazhab
Hanafiyah dan Malikiyah tidak
pernah disebutkan perihal shalat
tasbih ini kecuali dalam Talkhis Al-
Habir dari Ibnul Arabi bahwa beliau
berpendapat tidak ada hadits
shahih maupun hasan yang
menjelaskan tentang shalat tasbih
ini.
Diposting oleh
Irfan Andhika
di
23.53
0
komentar
Kirimkan Ini lewat Email
BlogThis!
Bagikan ke X
Berbagi ke Facebook
Selasa, 29 Maret 2011
¤KASIH IBU¤
Dan Tuhanmu telah memerintahkan
supaya kamu jangan menyembah
selain Dia dan hendaklah kamu
berbuat baik pada ibu bapakmu
dengan sebaik-baiknya. Jika salah
seorang di antara keduanya atau
kedua-duanya sampai berumur
lanjut dalam pemeliharaanmu,
maka sekali-kali janganlah kamu
mengatakan kepada keduanya
perkataan "ah" dan janganlah
kamu membentak mereka dan
ucapkanlah kepada mereka
perkataan yang mulia"
[Al Israa' , ayat 23 ]
"Dan rendahkanlah dirimu terhadap
mereka berdua dengan penuh
kesayangan dan ucapkanlah:
"Wahai Tuhanku, kasihilah mereka
keduanya, sebagaimana mereka
berdua telah mendidik aku waktu
kecil."
[Al Israa' , ayat 24 ]
Saat kau berumur 1 tahun, dia
menyuapi dan memandikanmu.
Sebagai balasannya, kau menangis
sepanjang malam.
Saat kau berumur 2 tahun, dia
mengajarimu bagaimana cara
berjalan.
Sebagai balasannya, kau kabur
saat dia memanggilmu.
Saat kau berumur 3 tahun, dia
memasakkan semua makananmu
dengan kasih sayang.
Sebagai balasannya, kau buang
piring berisi makanan ke lantai.
Saat kau berumur 4 tahun, dia
memberimu pensil berwarna.
Sebagai balasannya, kau coret-
coret dinding rumah dan meja
makan.
Saat kau berumur 5 tahun, dia
membelikanmu pakaian-pakaian
yang mahal dan indah.
Sebagai balasannya, kau
memakainya untuk bermain di
kubangan lumpur dekat rumah.
Saat kau berumur 6 tahun, dia
mengantarmu pergi ke sekolah.
Sebagai balasannya, kau
berteriak."NGGAK MAU!!"
Saat kau berumur 7 tahun, dia
membelikanmu bola.
Sebagai balasannya, kau
lemparkan bola ke jendela
tetangga.
Saat kau berumur 8 tahun, dia
memberimu es krim.
Sebagai balasannya, kau
tumpahkan hingga mengotori
seluruh bajumu.
Saat kau berumur 9 tahun, dia
membayar mahal untuk kursus
bahasamu.
Sebagai balasannya, kau sering
bolos dan sama sekali tidak pernah
berlatih.
Saat kau berumur 10 tahun, dia
mengantarmu ke mana saja, dari
kolam renang hingga pesta ulang
tahun.
Sebagai balasannya, kau melompat
keluar mobil tanpa memberi salam.
Saat kau berumur 11 tahun, dia
mengantar kau dan teman-
temanmu ke bioskop.
Sebagai balasannya, kau minta dia
duduk di baris lain.
Saat kau berumur 12 tahun, dia
melarangmu untuk melihat acara
TV khusus orang dewasa.
Sebagai balasannya, kau tunggu
sampai dia di keluar rumah.
Saat kau berumur 13 tahun, dia
menyarankanmu untuk memotong
rambut, karena sudah waktunya.
Sebagai balasannya, kau katakan
dia tidak tahu mode.
Saat kau berumur 14 tahun, dia
membayar biaya untuk kempingmu
selama sebulan liburan.
Sebagai balasannya, kau tak
pernah meneleponnya.
Saat kau berumur 15 tahun, dia
pulang kerja ingin memelukmu.
Sebagai balasannya, kau kunci
pintu kamarmu.
Saat kau berumur 16 tahun, dia
ajari kau mengemudi mobilnya.
Sebagai balasannya, kau pakai
mobilnya setiap ada kesempatan
tanpa peduli kepentingannya.
Saat kau berumur 17 tahun, dia
sedang menunggu telepon yang
penting.
Sebagai balasannya, kau pakai
telepon nonstop semalaman.
Saat kau berumur 18 tahun, dia
menangis terharu ketika kau lulus
SMA.
Sebagai balasannya, kau berpesta
dengan temanmu hingga pagi.
Saat kau berumur 19 tahun, dia
membayar biaya kuliahmu dan
mengantarmu ke kampus pada hari
pertama.
Sebagai balasannya, kau minta
diturunkan jauh dari pintu gerbang
agar kau tidak malu di depan
teman-temanmu.
Saat kau berumur 20 tahun, dia
bertanya, "Dari mana saja seharian
ini?"
Sebagai balasannya, kau jawab,"Ah
Ibu cerewet amat sih, ingin tahu
urusan orang!"
Saat kau berumur 21 tahun, dia
menyarankan satu pekerjaan yang
bagus untuk karirmu di masa
depan.
Sebagai balasannya, kau
katakan,"Aku tidak ingin seperti
Ibu."
Saat kau berumur 22 tahun, dia
memelukmu dengan haru saat kau
lulus perguruan tinggi.
Sebagai balasannya, kau tanya dia
kapan kau bisa ke Bali.
Saat kau berumur 23 tahun, dia
membelikanmu 1 set furniture
untuk rumah barumu.
Sebagai balasannya, kau ceritakan
pada temanmu betapa jeleknya
furniture itu.
Saat kau berumur 24 tahun, dia
bertemu dengan tunanganmu dan
bertanya tentang rencananya di
masa depan.
Sebagai balasannya, kau
mengeluh,"Aduuh, bagaimana Ibu
ini, kok bertanya seperti itu?"
Saat kau berumur 25 tahun, dia
mambantumu membiayai
penikahanmu.
Sebagai balasannya, kau pindah ke
kota lain yang jaraknya lebih dari
500 km.
Saat kau berumur 30 tahun, dia
memberikan beberapa nasehat
bagaimana merawat bayimu.
Sebagai balasannya, kau katakan
padanya,"Bu, sekarang jamannya
sudah berbeda!"
Saat kau berumur 40 tahun, dia
menelepon untuk memberitahukan
pesta ulang tahun salah seorang
kerabat.
Sebagai balasannya, kau
jawab,"Bu, saya sibuk sekali, nggak
ada waktu."
Saat kau berumur 50 tahun, dia
sakit-sakitan sehingga memerlukan
perawatanmu.
Sebagai balasannya, kau baca
tentang pengaruh negatif orang tua
yang menumpang tinggal di rumah
anak-anaknya.
Dan hingga suatu hari, dia
meninggal dengan tenang. Dan
tiba-tiba kau teringat semua yang
belum pernah kau lakukan, karena
mereka datang menghantam HATI
mu bagaikan palu godam.
supaya kamu jangan menyembah
selain Dia dan hendaklah kamu
berbuat baik pada ibu bapakmu
dengan sebaik-baiknya. Jika salah
seorang di antara keduanya atau
kedua-duanya sampai berumur
lanjut dalam pemeliharaanmu,
maka sekali-kali janganlah kamu
mengatakan kepada keduanya
perkataan "ah" dan janganlah
kamu membentak mereka dan
ucapkanlah kepada mereka
perkataan yang mulia"
[Al Israa' , ayat 23 ]
"Dan rendahkanlah dirimu terhadap
mereka berdua dengan penuh
kesayangan dan ucapkanlah:
"Wahai Tuhanku, kasihilah mereka
keduanya, sebagaimana mereka
berdua telah mendidik aku waktu
kecil."
[Al Israa' , ayat 24 ]
Saat kau berumur 1 tahun, dia
menyuapi dan memandikanmu.
Sebagai balasannya, kau menangis
sepanjang malam.
Saat kau berumur 2 tahun, dia
mengajarimu bagaimana cara
berjalan.
Sebagai balasannya, kau kabur
saat dia memanggilmu.
Saat kau berumur 3 tahun, dia
memasakkan semua makananmu
dengan kasih sayang.
Sebagai balasannya, kau buang
piring berisi makanan ke lantai.
Saat kau berumur 4 tahun, dia
memberimu pensil berwarna.
Sebagai balasannya, kau coret-
coret dinding rumah dan meja
makan.
Saat kau berumur 5 tahun, dia
membelikanmu pakaian-pakaian
yang mahal dan indah.
Sebagai balasannya, kau
memakainya untuk bermain di
kubangan lumpur dekat rumah.
Saat kau berumur 6 tahun, dia
mengantarmu pergi ke sekolah.
Sebagai balasannya, kau
berteriak."NGGAK MAU!!"
Saat kau berumur 7 tahun, dia
membelikanmu bola.
Sebagai balasannya, kau
lemparkan bola ke jendela
tetangga.
Saat kau berumur 8 tahun, dia
memberimu es krim.
Sebagai balasannya, kau
tumpahkan hingga mengotori
seluruh bajumu.
Saat kau berumur 9 tahun, dia
membayar mahal untuk kursus
bahasamu.
Sebagai balasannya, kau sering
bolos dan sama sekali tidak pernah
berlatih.
Saat kau berumur 10 tahun, dia
mengantarmu ke mana saja, dari
kolam renang hingga pesta ulang
tahun.
Sebagai balasannya, kau melompat
keluar mobil tanpa memberi salam.
Saat kau berumur 11 tahun, dia
mengantar kau dan teman-
temanmu ke bioskop.
Sebagai balasannya, kau minta dia
duduk di baris lain.
Saat kau berumur 12 tahun, dia
melarangmu untuk melihat acara
TV khusus orang dewasa.
Sebagai balasannya, kau tunggu
sampai dia di keluar rumah.
Saat kau berumur 13 tahun, dia
menyarankanmu untuk memotong
rambut, karena sudah waktunya.
Sebagai balasannya, kau katakan
dia tidak tahu mode.
Saat kau berumur 14 tahun, dia
membayar biaya untuk kempingmu
selama sebulan liburan.
Sebagai balasannya, kau tak
pernah meneleponnya.
Saat kau berumur 15 tahun, dia
pulang kerja ingin memelukmu.
Sebagai balasannya, kau kunci
pintu kamarmu.
Saat kau berumur 16 tahun, dia
ajari kau mengemudi mobilnya.
Sebagai balasannya, kau pakai
mobilnya setiap ada kesempatan
tanpa peduli kepentingannya.
Saat kau berumur 17 tahun, dia
sedang menunggu telepon yang
penting.
Sebagai balasannya, kau pakai
telepon nonstop semalaman.
Saat kau berumur 18 tahun, dia
menangis terharu ketika kau lulus
SMA.
Sebagai balasannya, kau berpesta
dengan temanmu hingga pagi.
Saat kau berumur 19 tahun, dia
membayar biaya kuliahmu dan
mengantarmu ke kampus pada hari
pertama.
Sebagai balasannya, kau minta
diturunkan jauh dari pintu gerbang
agar kau tidak malu di depan
teman-temanmu.
Saat kau berumur 20 tahun, dia
bertanya, "Dari mana saja seharian
ini?"
Sebagai balasannya, kau jawab,"Ah
Ibu cerewet amat sih, ingin tahu
urusan orang!"
Saat kau berumur 21 tahun, dia
menyarankan satu pekerjaan yang
bagus untuk karirmu di masa
depan.
Sebagai balasannya, kau
katakan,"Aku tidak ingin seperti
Ibu."
Saat kau berumur 22 tahun, dia
memelukmu dengan haru saat kau
lulus perguruan tinggi.
Sebagai balasannya, kau tanya dia
kapan kau bisa ke Bali.
Saat kau berumur 23 tahun, dia
membelikanmu 1 set furniture
untuk rumah barumu.
Sebagai balasannya, kau ceritakan
pada temanmu betapa jeleknya
furniture itu.
Saat kau berumur 24 tahun, dia
bertemu dengan tunanganmu dan
bertanya tentang rencananya di
masa depan.
Sebagai balasannya, kau
mengeluh,"Aduuh, bagaimana Ibu
ini, kok bertanya seperti itu?"
Saat kau berumur 25 tahun, dia
mambantumu membiayai
penikahanmu.
Sebagai balasannya, kau pindah ke
kota lain yang jaraknya lebih dari
500 km.
Saat kau berumur 30 tahun, dia
memberikan beberapa nasehat
bagaimana merawat bayimu.
Sebagai balasannya, kau katakan
padanya,"Bu, sekarang jamannya
sudah berbeda!"
Saat kau berumur 40 tahun, dia
menelepon untuk memberitahukan
pesta ulang tahun salah seorang
kerabat.
Sebagai balasannya, kau
jawab,"Bu, saya sibuk sekali, nggak
ada waktu."
Saat kau berumur 50 tahun, dia
sakit-sakitan sehingga memerlukan
perawatanmu.
Sebagai balasannya, kau baca
tentang pengaruh negatif orang tua
yang menumpang tinggal di rumah
anak-anaknya.
Dan hingga suatu hari, dia
meninggal dengan tenang. Dan
tiba-tiba kau teringat semua yang
belum pernah kau lakukan, karena
mereka datang menghantam HATI
mu bagaikan palu godam.
Diposting oleh
Irfan Andhika
di
08.36
0
komentar
Kirimkan Ini lewat Email
BlogThis!
Bagikan ke X
Berbagi ke Facebook
¤Tentang Poligami¤
Menilik Al-Quran dan As-Sunnah
dalam menyebutkan dalam
menyebutkan tentang hukum
poligami, maka didapatkan, bahwa
berpoligami itu hukumnya sunnah
bagi yang mampu. Dalam firman-
Nya, Allah telah menyatakan:
Dan jika kamu takut tidak akan
dapat berlaku adil terhadap (hak-
hak) perempuan yang yatim
(bilamana kamu mengawininya),
maka kawinilah wanita-wanita
(lain) yang kamu senangi : dua, tiga
atau empat. Kemudian jika kamu
takut tidak akan dapat berlaku adil,
maka (kawinilah) seorang saja,
atau budak-budak yang kamu
miliki. Yang demikian itu adalah
lebih dekat kepada tidak berbuat
aniaya. [An Nisaa (4): 3]
Dalam ayat ini Allah berbicara
kepada para pengasuh (wali) anak-
anak yatim, bila anak yatim berada
dalam pengasuhan dan tanggung
jawab salah seorang kalian, dan ia
khawatir tidak dapat memberinya
mahar yang cukup, maka
hendaknya beralih kepada wanita
yang lainnya, karena wanita itu
banyak. Allah tidak membuatnya
sempit, karena menghalalkan
untuknya sampai empat wanita.
Apabila khawatir berbuat zalim bila
menikahi lebih dari satu wanita,
maka wajib baginya untuk
mencukupkan satu saja, atau
mengambil budak-budak
wanitanya
Dengan izin Allah, Rasulullah saw
sendiri telah menikahi sembilan
wanita selama hidupnya.
Sebagaimana nampak dari sebuah
hadis yang diberitakan Anas bin
Malik ra:
Sungguh Nabi saw pernah
mengelilingi (menggilir) isteri-
isterinya dalam satu malam, dan
ketika itu beliau memiliki sembilan
isteri. [HR al Bukhari, no. 5068 dan
an-Nasaa-i, 6/54]
Juga nampak dalam perkataan
Ibnu ‘Abbas kepada Sa’id Jubair:
“Apakah kamu telah menikah?”
Sa’id menjawab,”Belum,”lalu beliau
bekata,”Menikahlah! Karena orang
terbaik ummat ini paling banyak
isterinya.”[HR al Bukhari no. 5069]
Dalam kalimat “orang terbaik
ummat”, terdapat dua pengertian.
Pertama, yang dimaksudkan ialah
Rasulullah saw. Sehingga memiliki
pengertian, bahwa Rasulullah saw
orang terbaik dari ummat ini adalah
orang yang paling banyak isterinya.
Kedua, yang dimaksud dengan
“yang terbaik dari ummat ini”
dalam pernikahan, yaitu yang
paling banyak isterinya.
Syaikh Mushthafa al’Adawi
berkata,”Semuanya mempunyai
dasar dan menunjukkan pengertian
yang sama, yang menjadi dasar
pendapat ulama yang menyatakan
sunnahnya berpoligami”
Landasan lain yang menunjukkan
poligami merupakan sunnah, juga
didapatkan dengan merujuk
kepada hadis-hadis yang
menganjurkan agar kaum Muslim
memiliki banyak anak.
Diantara hadis-hadis tersebut ialah:
Dari Ma’qil bin Yasar, beliau berkata:
Seseorang datang menemui nabi
saw dan berkata: “Aku
mendapatkan seorang wanita yang
memiliki martabat dan cantik,
namun ia mandul. Apakah aku
boleh menikahinya?” Beliau
menjawab:”Jangan!” Lalu ia
mendatangi beliau kedua kalinya,
dan beliau melarangnya. Kemudian
datang ketiga kalinya, dan beliau
berkata:”Nikahilah wanita yang
baik dan subur, karena aku
berbangga-bangga dengan
banyaknya kalian terhadap ummat-
ummat lainnya”.[HR Abu Dawud no.
2050, dan Syaikh al Albani berkata:
“Hadist hasan Shahih”. Lihat Shahih
Sunan Abu Dawud]
Tentang hadist di atas, Syaikh
Musthafa al’Adawi
menjelaskan:”Menikah banyak,
dengan izin Allah dapat
memperbanyak kelahiran. Dan
banyaknya kelahiran, dapat
menyebabkan takatsur (bangga
dengan banyaknya jumlah).
Dengan demikian, wanita yang
subur juga dinasehati bila
mengetahui seorang laki-laki (yang
melamarnya) itu mandul, maka
jangan menikah dengannya.
Kemudian larangan (dalam hadist)
ini bersifat makruh, bukan
pengharaman. Karena Nabi saw
mempertahankan para isterinya
yang tidak melahirkan anak kecuali
Khadidjah dan Mariyah”.
Demikianlah, bahwa salah satu
cara memperbanyak keturuanan
adalah dengan memperbanyak
isteri.
HIKMAH DAN MANFAAT POLIGAMI
Setiap yang disyari’atkan dalam
Islam, pasti memiliki hikmah dan
manfaat yang besar untuk
ummatnya. Dibolehkannya poligami
adalah cara terbaik dalam
menciptakan keluarga dan
masyarakat agar terjaga kemuliaan
dan kehormatannya.
Ada beberapa hal bisa disebutkan
untuk menunjukkan hikmah dan
manfaat poligami, sebagai berikut:
1. Poligami merupakan syari’at yang
dipilih Allah SWT untuk
kemaslahatan ummat-Nya.
2. Seorang wanita mengalami sakit,
haidh, nifas dan sejenisnya, yang
menghalangi dirinya menjalankan
tugas-tugas sebagai pasangan
suami-isteri. Sedangkan lelaki, ia
selalu siap menjadi penyebab
bertambahnya ummat ini.
Seandainya seorang lelaki tertahan
pada masa-masa wanita
berhalangan, tentu kemanfaatannya
berkurang. .
3. Allah telah menjadikan jumlah
lelaki lebih sedikit dari wanita.
Kaum lelaki juga lebih banyak
menghadapi sebab-sebab kematian
dalam seluruh kehidupannya.
Seandainya lelaki hanya
dicukupkan dengan seorang
wanita, tentulah banyak tersisa
wanita yang tidak mendapatkan
suami, sehingga memaksa mereka
berbuat perbuatan kotor. Dan
berpaling dari petunjuk al-Quran
dalam permasalahan ini menjadi
sebab terbesar dalam masalah
akhlak.
Tentang jumlah lelaki dan wanita
ini Rasulullah menjelaskan dalam
sabdanya:
Di antara tanda-tanda kiamat, yaitu
berkurangnya ilmu dan tampaknya
kebodohan, tampak zina dan
wanita menjadi banyak, sedangkan
lelaki menjadi sedikit, hingga
seorang lelaki berbanding dengan
lima puluh wanita, [Mutafaqun
‘alaihi].
1. Secara umum, seluruh wanita
selalu siap untuk menikah. Dan
sebaliknya, banyak lelaki yang
tidak memiliki kemampuan
melaksanakan konsekwensi
pernikahan karena kefakirannya.
Sehingga kaum lelaki yang siap
menikah lebih sedikit dari wanita
2. Poligami dapat mengangkat
kemulian wanita yang suaminya
meninggal atau menthalaqnya,
sedangkan dirinya tidak memiliki
seorang pun dari keluarganya yang
dapat menanggungnya. Sehingga
dengan poligami ada yang
bertanggung jawab atas
kebutuhannya.
dalam menyebutkan dalam
menyebutkan tentang hukum
poligami, maka didapatkan, bahwa
berpoligami itu hukumnya sunnah
bagi yang mampu. Dalam firman-
Nya, Allah telah menyatakan:
Dan jika kamu takut tidak akan
dapat berlaku adil terhadap (hak-
hak) perempuan yang yatim
(bilamana kamu mengawininya),
maka kawinilah wanita-wanita
(lain) yang kamu senangi : dua, tiga
atau empat. Kemudian jika kamu
takut tidak akan dapat berlaku adil,
maka (kawinilah) seorang saja,
atau budak-budak yang kamu
miliki. Yang demikian itu adalah
lebih dekat kepada tidak berbuat
aniaya. [An Nisaa (4): 3]
Dalam ayat ini Allah berbicara
kepada para pengasuh (wali) anak-
anak yatim, bila anak yatim berada
dalam pengasuhan dan tanggung
jawab salah seorang kalian, dan ia
khawatir tidak dapat memberinya
mahar yang cukup, maka
hendaknya beralih kepada wanita
yang lainnya, karena wanita itu
banyak. Allah tidak membuatnya
sempit, karena menghalalkan
untuknya sampai empat wanita.
Apabila khawatir berbuat zalim bila
menikahi lebih dari satu wanita,
maka wajib baginya untuk
mencukupkan satu saja, atau
mengambil budak-budak
wanitanya
Dengan izin Allah, Rasulullah saw
sendiri telah menikahi sembilan
wanita selama hidupnya.
Sebagaimana nampak dari sebuah
hadis yang diberitakan Anas bin
Malik ra:
Sungguh Nabi saw pernah
mengelilingi (menggilir) isteri-
isterinya dalam satu malam, dan
ketika itu beliau memiliki sembilan
isteri. [HR al Bukhari, no. 5068 dan
an-Nasaa-i, 6/54]
Juga nampak dalam perkataan
Ibnu ‘Abbas kepada Sa’id Jubair:
“Apakah kamu telah menikah?”
Sa’id menjawab,”Belum,”lalu beliau
bekata,”Menikahlah! Karena orang
terbaik ummat ini paling banyak
isterinya.”[HR al Bukhari no. 5069]
Dalam kalimat “orang terbaik
ummat”, terdapat dua pengertian.
Pertama, yang dimaksudkan ialah
Rasulullah saw. Sehingga memiliki
pengertian, bahwa Rasulullah saw
orang terbaik dari ummat ini adalah
orang yang paling banyak isterinya.
Kedua, yang dimaksud dengan
“yang terbaik dari ummat ini”
dalam pernikahan, yaitu yang
paling banyak isterinya.
Syaikh Mushthafa al’Adawi
berkata,”Semuanya mempunyai
dasar dan menunjukkan pengertian
yang sama, yang menjadi dasar
pendapat ulama yang menyatakan
sunnahnya berpoligami”
Landasan lain yang menunjukkan
poligami merupakan sunnah, juga
didapatkan dengan merujuk
kepada hadis-hadis yang
menganjurkan agar kaum Muslim
memiliki banyak anak.
Diantara hadis-hadis tersebut ialah:
Dari Ma’qil bin Yasar, beliau berkata:
Seseorang datang menemui nabi
saw dan berkata: “Aku
mendapatkan seorang wanita yang
memiliki martabat dan cantik,
namun ia mandul. Apakah aku
boleh menikahinya?” Beliau
menjawab:”Jangan!” Lalu ia
mendatangi beliau kedua kalinya,
dan beliau melarangnya. Kemudian
datang ketiga kalinya, dan beliau
berkata:”Nikahilah wanita yang
baik dan subur, karena aku
berbangga-bangga dengan
banyaknya kalian terhadap ummat-
ummat lainnya”.[HR Abu Dawud no.
2050, dan Syaikh al Albani berkata:
“Hadist hasan Shahih”. Lihat Shahih
Sunan Abu Dawud]
Tentang hadist di atas, Syaikh
Musthafa al’Adawi
menjelaskan:”Menikah banyak,
dengan izin Allah dapat
memperbanyak kelahiran. Dan
banyaknya kelahiran, dapat
menyebabkan takatsur (bangga
dengan banyaknya jumlah).
Dengan demikian, wanita yang
subur juga dinasehati bila
mengetahui seorang laki-laki (yang
melamarnya) itu mandul, maka
jangan menikah dengannya.
Kemudian larangan (dalam hadist)
ini bersifat makruh, bukan
pengharaman. Karena Nabi saw
mempertahankan para isterinya
yang tidak melahirkan anak kecuali
Khadidjah dan Mariyah”.
Demikianlah, bahwa salah satu
cara memperbanyak keturuanan
adalah dengan memperbanyak
isteri.
HIKMAH DAN MANFAAT POLIGAMI
Setiap yang disyari’atkan dalam
Islam, pasti memiliki hikmah dan
manfaat yang besar untuk
ummatnya. Dibolehkannya poligami
adalah cara terbaik dalam
menciptakan keluarga dan
masyarakat agar terjaga kemuliaan
dan kehormatannya.
Ada beberapa hal bisa disebutkan
untuk menunjukkan hikmah dan
manfaat poligami, sebagai berikut:
1. Poligami merupakan syari’at yang
dipilih Allah SWT untuk
kemaslahatan ummat-Nya.
2. Seorang wanita mengalami sakit,
haidh, nifas dan sejenisnya, yang
menghalangi dirinya menjalankan
tugas-tugas sebagai pasangan
suami-isteri. Sedangkan lelaki, ia
selalu siap menjadi penyebab
bertambahnya ummat ini.
Seandainya seorang lelaki tertahan
pada masa-masa wanita
berhalangan, tentu kemanfaatannya
berkurang. .
3. Allah telah menjadikan jumlah
lelaki lebih sedikit dari wanita.
Kaum lelaki juga lebih banyak
menghadapi sebab-sebab kematian
dalam seluruh kehidupannya.
Seandainya lelaki hanya
dicukupkan dengan seorang
wanita, tentulah banyak tersisa
wanita yang tidak mendapatkan
suami, sehingga memaksa mereka
berbuat perbuatan kotor. Dan
berpaling dari petunjuk al-Quran
dalam permasalahan ini menjadi
sebab terbesar dalam masalah
akhlak.
Tentang jumlah lelaki dan wanita
ini Rasulullah menjelaskan dalam
sabdanya:
Di antara tanda-tanda kiamat, yaitu
berkurangnya ilmu dan tampaknya
kebodohan, tampak zina dan
wanita menjadi banyak, sedangkan
lelaki menjadi sedikit, hingga
seorang lelaki berbanding dengan
lima puluh wanita, [Mutafaqun
‘alaihi].
1. Secara umum, seluruh wanita
selalu siap untuk menikah. Dan
sebaliknya, banyak lelaki yang
tidak memiliki kemampuan
melaksanakan konsekwensi
pernikahan karena kefakirannya.
Sehingga kaum lelaki yang siap
menikah lebih sedikit dari wanita
2. Poligami dapat mengangkat
kemulian wanita yang suaminya
meninggal atau menthalaqnya,
sedangkan dirinya tidak memiliki
seorang pun dari keluarganya yang
dapat menanggungnya. Sehingga
dengan poligami ada yang
bertanggung jawab atas
kebutuhannya.
Diposting oleh
Irfan Andhika
di
08.26
0
komentar
Kirimkan Ini lewat Email
BlogThis!
Bagikan ke X
Berbagi ke Facebook
Senin, 28 Maret 2011
¤Empat (4) Orang Istri¤
Suatu ketika, ada seorang
pedagang kaya yang mempunyai 4
orang istri. Dia mencintai istri yang
keempat, dan menganugerahinya
harta dan kesenangan yang
banyak. Sebab, dialah yang
tercantik diantara semua istrinya.
Pria ini selalu memberikan yang
terbaik buat istri keempatnya ini.
Pedagang itu juga mencintai
istrinya yang ketiga. Dia sangat
bangga dengan istrinya ini, dan
selalu berusaha untuk
memperkenalkan wanita ini
kepada semua temannya.
Namun, ia juga selalu khawatir
kalau istrinya ini akan lari dengan
pria yang lain.
Begitu juga dengan istri yang
kedua. Ia pun sangat menyukainya.
Ia adalah istri yang sabar dan
pengertian. Kapanpun pedagang ini
mendapat masalah, dia selalu
meminta pertimbangan istrinya ini.
Dialah tempat bergantung. Dia
selalu menolong dan mendampingi
suaminya, melewati masa-masa
yang sulit.
Sama halnya dengan istri yang
pertama. Dia adalah pasangan
yang sangat setia. Dia selalu
membawa perbaikan bagi
kehidupan keluarga ini. Dia lah
yang merawat dan mengatur
semua kekayaan dan usaha sang
suami.
Akan tetapi, sang pedagang, tak
begitu mencintainya. Walaupun
sang istri pertama ini begitu sayang
padanya, namun, pedagang ini tak
begitu mempedulikannya.
Suatu ketika, si pedagang sakit.
Lama kemudian, ia menyadari,
bahwa ia akan segera meninggal.
Dia meresapi semua kehidupan
indahnya, dan berkata dalam hati.
"Saat ini, aku punya 4 orang
istri. Namun, saat aku meninggal,
aku akan sendiri. Betapa
menyedihkan jika aku harus hidup
sendiri." Lalu, ia meminta semua
istrinya datang, dan kemudian
mulai bertanya pada istri
keempatnya. "Kaulah yang paling
kucintai, kuberikan kau gaun dan
perhiasan yang indah. Nah,
sekarang, aku akan mati, maukah
kau mendampingiku dan
menemaniku? Ia terdiam. "Tentu
saja tidak, "jawab istri keempat,
dan pergi begitu saja tanpa
berkata-kata lagi.
Jawaban itu sangat menyakitkan
hati. Seakan-akan, ada pisau yang
terhunus dan mengiris-iris hatinya.
Pedagang yang sedih itu lalu
bertanya pada istri ketiga.
"Akupun mencintaimu sepenuh hati,
dan saat ini, hidupku akan berakhir.
Maukah kau ikut denganku, dan
menemani akhir hayatku?
Istrinya menjawab, Hidup begitu
indah disini. Aku akan menikah lagi
jika kau mati. Sang pedagang
begitu terpukul dengan ucapan ini.
Badannya mulai merasa demam.
Lalu, ia bertanya pada istri
keduanya. "Aku selalu berpaling
padamu setiap kali mendapat
masalah. Dan kau selalu mau
membantuku. Kini, aku butuh sekali
pertolonganmu. Kalau ku mati,
maukah kau ikut dan
mendampingiku? Sang istri
menjawab pelan. "Maafkan aku,"
ujarnya "Aku tak bisa menolongmu
kali ini. Aku hanya bisa
mengantarmu hingga ke liang
kubur saja. Nanti, akan kubuatkan
makam yang indah buatmu.
Jawaban itu seperti kilat yang
menyambar. Sang pedagang kini
merasa putus asa.
Tiba-tiba terdengar sebuah suara.
"Aku akan tinggal denganmu. Aku
akan ikut kemanapun kau pergi.
Aku, tak akan meninggalkanmu,
aku akan setia bersamamu. Sang
pedagang lalu menoleh ke
samping, dan mendapati istri
pertamanya disana. Dia tampak
begitu kurus. Badannya tampak
seperti orang yang kelaparan.
Merasa menyesal, sang pedagang
lalu bergumam, "Kalau saja, aku
bisa merawatmu lebih baik saat ku
mampu, tak akan kubiarkan kau
seperti ini, istriku."
Renungan :
Teman, sesungguhnya kita punya 4
orang istri dalam hidup ini.
Istri yang keempat, adalah
Seberapapun banyak waktu dan
biaya yang kita keluarkan untuk
tubuh kita supaya tampak indah
dan gagah, semuanya akan hilang.
Ia akan pergi segera kalau kita
meninggal. Tak ada keindahan dan
kegagahan yang tersisa saat kita
menghadap-Nya.
Istri yang ketiga, adalah status
sosial dan kekayaan.
Saat kita meninggal, semuanya
akan pergi kepada yang lain.
Mereka akan berpindah, dan
melupakan kita yang pernah
memilikinya.
Sedangkan istri yang kedua, adalah
kerabat dan teman-teman.
Seberapapun dekat hubungan kita
dengan mereka, mereka tak akan
bisa bersama kita selamanya.
Hanya sampai kuburlah mereka
akan menemani kita.
Dan, teman, sesungguhnya, istri
pertama kita adalah. Mungkin, kita
sering mengabaikan, dan
melupakannya demi kekayaan dan
kesenangan pribadi. Namun,
sebenarnya, hanya jiwa dan amal
kita sajalah yang mampu untuk
terus setia dan mendampingi
kemanapun kita melangkah. Hanya
amal yang mampu menolong kita
di
akhirat kelak.
Jadi, selagi mampu, perlakukanlah
jiwa dan amal kita dengan bijak.
Jangan sampai kita menyesal
belakangan.
Mumpung masih hidup..... ^_^
Mumpung masih sehat
Mumpung masih longgar
Mumpung masih muda
Semoga Insya Allah
pedagang kaya yang mempunyai 4
orang istri. Dia mencintai istri yang
keempat, dan menganugerahinya
harta dan kesenangan yang
banyak. Sebab, dialah yang
tercantik diantara semua istrinya.
Pria ini selalu memberikan yang
terbaik buat istri keempatnya ini.
Pedagang itu juga mencintai
istrinya yang ketiga. Dia sangat
bangga dengan istrinya ini, dan
selalu berusaha untuk
memperkenalkan wanita ini
kepada semua temannya.
Namun, ia juga selalu khawatir
kalau istrinya ini akan lari dengan
pria yang lain.
Begitu juga dengan istri yang
kedua. Ia pun sangat menyukainya.
Ia adalah istri yang sabar dan
pengertian. Kapanpun pedagang ini
mendapat masalah, dia selalu
meminta pertimbangan istrinya ini.
Dialah tempat bergantung. Dia
selalu menolong dan mendampingi
suaminya, melewati masa-masa
yang sulit.
Sama halnya dengan istri yang
pertama. Dia adalah pasangan
yang sangat setia. Dia selalu
membawa perbaikan bagi
kehidupan keluarga ini. Dia lah
yang merawat dan mengatur
semua kekayaan dan usaha sang
suami.
Akan tetapi, sang pedagang, tak
begitu mencintainya. Walaupun
sang istri pertama ini begitu sayang
padanya, namun, pedagang ini tak
begitu mempedulikannya.
Suatu ketika, si pedagang sakit.
Lama kemudian, ia menyadari,
bahwa ia akan segera meninggal.
Dia meresapi semua kehidupan
indahnya, dan berkata dalam hati.
"Saat ini, aku punya 4 orang
istri. Namun, saat aku meninggal,
aku akan sendiri. Betapa
menyedihkan jika aku harus hidup
sendiri." Lalu, ia meminta semua
istrinya datang, dan kemudian
mulai bertanya pada istri
keempatnya. "Kaulah yang paling
kucintai, kuberikan kau gaun dan
perhiasan yang indah. Nah,
sekarang, aku akan mati, maukah
kau mendampingiku dan
menemaniku? Ia terdiam. "Tentu
saja tidak, "jawab istri keempat,
dan pergi begitu saja tanpa
berkata-kata lagi.
Jawaban itu sangat menyakitkan
hati. Seakan-akan, ada pisau yang
terhunus dan mengiris-iris hatinya.
Pedagang yang sedih itu lalu
bertanya pada istri ketiga.
"Akupun mencintaimu sepenuh hati,
dan saat ini, hidupku akan berakhir.
Maukah kau ikut denganku, dan
menemani akhir hayatku?
Istrinya menjawab, Hidup begitu
indah disini. Aku akan menikah lagi
jika kau mati. Sang pedagang
begitu terpukul dengan ucapan ini.
Badannya mulai merasa demam.
Lalu, ia bertanya pada istri
keduanya. "Aku selalu berpaling
padamu setiap kali mendapat
masalah. Dan kau selalu mau
membantuku. Kini, aku butuh sekali
pertolonganmu. Kalau ku mati,
maukah kau ikut dan
mendampingiku? Sang istri
menjawab pelan. "Maafkan aku,"
ujarnya "Aku tak bisa menolongmu
kali ini. Aku hanya bisa
mengantarmu hingga ke liang
kubur saja. Nanti, akan kubuatkan
makam yang indah buatmu.
Jawaban itu seperti kilat yang
menyambar. Sang pedagang kini
merasa putus asa.
Tiba-tiba terdengar sebuah suara.
"Aku akan tinggal denganmu. Aku
akan ikut kemanapun kau pergi.
Aku, tak akan meninggalkanmu,
aku akan setia bersamamu. Sang
pedagang lalu menoleh ke
samping, dan mendapati istri
pertamanya disana. Dia tampak
begitu kurus. Badannya tampak
seperti orang yang kelaparan.
Merasa menyesal, sang pedagang
lalu bergumam, "Kalau saja, aku
bisa merawatmu lebih baik saat ku
mampu, tak akan kubiarkan kau
seperti ini, istriku."
Renungan :
Teman, sesungguhnya kita punya 4
orang istri dalam hidup ini.
Istri yang keempat, adalah
Seberapapun banyak waktu dan
biaya yang kita keluarkan untuk
tubuh kita supaya tampak indah
dan gagah, semuanya akan hilang.
Ia akan pergi segera kalau kita
meninggal. Tak ada keindahan dan
kegagahan yang tersisa saat kita
menghadap-Nya.
Istri yang ketiga, adalah status
sosial dan kekayaan.
Saat kita meninggal, semuanya
akan pergi kepada yang lain.
Mereka akan berpindah, dan
melupakan kita yang pernah
memilikinya.
Sedangkan istri yang kedua, adalah
kerabat dan teman-teman.
Seberapapun dekat hubungan kita
dengan mereka, mereka tak akan
bisa bersama kita selamanya.
Hanya sampai kuburlah mereka
akan menemani kita.
Dan, teman, sesungguhnya, istri
pertama kita adalah. Mungkin, kita
sering mengabaikan, dan
melupakannya demi kekayaan dan
kesenangan pribadi. Namun,
sebenarnya, hanya jiwa dan amal
kita sajalah yang mampu untuk
terus setia dan mendampingi
kemanapun kita melangkah. Hanya
amal yang mampu menolong kita
di
akhirat kelak.
Jadi, selagi mampu, perlakukanlah
jiwa dan amal kita dengan bijak.
Jangan sampai kita menyesal
belakangan.
Mumpung masih hidup..... ^_^
Mumpung masih sehat
Mumpung masih longgar
Mumpung masih muda
Semoga Insya Allah
Diposting oleh
Irfan Andhika
di
09.57
0
komentar
Kirimkan Ini lewat Email
BlogThis!
Bagikan ke X
Berbagi ke Facebook